Aksi protes kematian Mahsa Amini di Iran (Foto: Reuters)

Aksi Protes Kematian Amini Meluas ke Paris, Massa Bentrok dengan Polisi Hingga Semburkan Gas Air Mata

Maharani | Internasional | 26-09-2022

PARBOABOA, Jakarta – Aksi protes mengecam kematian Mahsa Maini seorang perempuan yang tewas setelah ditahan polisi moral di Iran meluas hingga ke Paris. Ribuan orang warga Paris berkumpul di Trocadero Square jantung ibu kota Paris sebelum bergerak menuju Kedutaan Besar (Kedubes) Iran sejak kemarin, Minggu (25/09/2022).

Dilansir AFP, aksi ini dilakukan sebagai bentuk kemarahan mereka atas kasus Mahsa Amini yang meninggal tak lama setelah ditangkap polisi moral Iran karena dianggap melanggar aturan memakai hijab.

Namun, aksi ini sempat diwarnai kericuhan karena pendemo berusaha menerobos pagar penghalang yang didirikan di dekat kedutaan Iran. Sehingga petugas keamanan langsung menembakkan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

Hal tersebut telah di konfirmasi oleh pihak kepolisian Paris dalam sebuah penyatannya, bahwa memang benar gas air mata telah digunakan.

“Pada beberapa kesempatan kelompok mencoba menerobos penghalang jalan yang didirikan di dekat kedutaan Iran. Polisi menggunakan gas air mata untuk mengusir mereka,” ujar pihak kepolisian Paris, seperti dilansir dari laman AFP pada, Senin (26/09/2022).

Satu orang demonstran ditangkap karena marah dan memberontak, sedangkan satu petugas terluka ringan dalam peristiwa tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mahsa Amini adalah perempuan yang meninggal dalam tahanan pada Jumat (16/09/2022), usai ditangkap “polisi moral” republik Islam itu. Amini diduga tidak menutup rambutnya secara sempurna dengan hijab sehingga sempat terlihat saat ditangkap di Teheran, Ibu Kota Iran pada Selasa (13/09/2022).

Berdasarkan peraturan di Iran, yang bersumber pada interpretasi hukum Islam, kaum perempuan diwajibkan menutup rambut dengan hijab dan mengenakan pakaian panjang-longgar untuk menutup lekuk tubuh mereka.

Perempuan muda itu koma setelah jatuh pingsan di tahanan dan meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit. Polisi moral membantah bahwa anggota mereka memukul kepala Amini dengan tongkat atau membenturkan kepalanya ke mobil polisi.

Kematian Amini juga memicu kecurigaan, sang ayah mengatakan Amini tak memiliki masalah kesehatan dan menderita memar di kakinya dalam tahanan.

Tag : #aksi prostes kematian    #mahsa amini    #internasional    #iran    #paris    #aksi demo ricuh   

Baca Juga