Ilustrasi Raja Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dari Tanah Batak

Olivia | Pahlawan | 28-12-2021

PARBOABOA – Sisingamangaraja XII memiliki nama asli Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela. Lahir pada tanggal 18 Februari 1845 di Bakkara,  Sumatera Utara.

Sisingamangaraja XII merupakan seorang raja di Negeri Toba dan menjadi salah satu tokoh yang membantu melakukan perlawanan terhadap penjajahan Bangsa Belanda sejak tahun 1878.

Gelar Sisingamangaraja XII diperoleh berdasarkan silsilah keluarga Marga Sinambela yang memiliki arti “Raja Singa Agung”.

Beliau naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dunia pada tahun 1876 yakni Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Raja Sohahuaon Sinambela.

Bentuk-bentuk Perlawanan Sisingamangaraja XII

Alasan Sisingamangaraja XII melakukan perlawanan karena ia menentang adanya upaya Kristenisasi yang dilakukan Belanda dan juga upaya untuk menguasai seluruh daerah tanah Batak.

Awal mula perlawanan Sisingamangaraja XII dilakukan pada Februari 1878 dimana pasukan Belanda sampai di Pearaja tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Bersama penginjil tersebut dan seorang penerjemah bernama Simoneit, pasukan Belanda menuju Bahal Batu untuk membangun benteng pertahanan.

Kehadiran tentara kolonial ini tentu saja memprovokasi Sisingamangaraja XII. Beliau bertekad untuk mempertahankan daerah kekuasaanya di Tapanuli dari invasi Belanda.

Beliau juga ingin agar masyarakat tetap berada dalam kehidupan tradisional, bebas dari segala pengaruh dan intervensi dari negara-negara lain, serta menolak penyebaran agama Kristen di Tanah Batak. Pada 16 Februari 1878, Sisingamangaraja XII mengumumkan perang yang ditandai dengan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu tersebut.

Sebagai respon atas serangan itu, Kolonial Belanda dibawah pimpinan Kolonel Engels dari Sibolga datang membawa penambahan pasukan sebanyak 250 tentara untuk menyerang Bakkara yang diketahui merupakan markas dari Sisingamangaraja XII.  

Dalam penyerangan itu, pasukan Kolonial Belanda tersebut berhasil menaklukkan Bakkara. Beruntung Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dan keluar mengungsi untuk sementara waktu.

Para raja yang tertinggal di Bakkara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia Belanda.

Walaupun dalam pengungsian, Sisingamangaraja XII tidak diam begitu saja. Dia tetap melakukan perlawanan secara Gerilya untuk beberapa kawasan seperti Butarbutar, Huta Ginjang, Lobu Siregar, Naga Saribu, Gurgur. Tetapi perlawanannya tersebut gagal.

Pada tahun 1883-1884, Ia dan para pengikutnya kembali berkumpul dan menyusun rencana untuk meluncurkan serangan yang dibantu oleh Kerajaan Aceh. Mereka menyerang Belanda di Uluan dan Balige pada Mei 1883 dan Tangga Batu pada 1884.

Melihat perlawanan yang dilakukan Sisingamangaraja XII, membuat Belanda tidak tinggal diam. Di tahun 1907, Belanda kembali memperkuat pasukannya dengan persenjataan lengkap.

Dengan pasukan yang diberi nama Korps Marsose, Belanda melakukan penyerangan di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.  Dalam Penyerangan ini, Korps Marsose berhasil membuat Sisingamangaraja XII kewalahan dan terkepung.

Sisingamangaraja XII akhirnya gugur dalam pertempuran ini sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Kopral Souhoka, sebagai penembak jitu pasukan tersebut berhasil mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat dibawah telinganya.

Darah yang menempel di tubuhnya ternyata menjadi titik lemah Sisingamangaraja XII. Dia pun berhasil dilumpuhkan dengan peluru tajam yang sebelumnya dilumuri darah babi. Menjelang napas terakhir, dia tetap  berucap “Ahu Sisingamangaraja”.

Dalam pertempuran tersebut kedua putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya yang bernama Putri Lopian ikut gugur. Sementara keluarganya yang lain ditawan di Tarutung.

Sebelum Sisingamangaraja XII dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Toba. 

Penghargaan Dari Pemerintah Republik Indonesia Untuk Sisingamangaraja XII

Sejak 14 Juni 1953, makamnya dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, yang dibangun oleh Pemerintah, masyarakat dan keluarga. Sisingamangaraja XII pun digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 pertanggal 9 Nopember 1961.

Kesaktian Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII merupakan tokoh terakhir yang menjadi pemimpin parmalim (kepercayaan zaman dahulu). Dia dianggap Raja Dewa dan titisan Batara Guru, karena Sisingamangaraja diyakini memiliki kesaktian yang mampu mengusir roh jahat, mengeluarkan hujan, dan mengendalikan proses penanaman padi.

Pada saat perang berlangsung di Tangga Batu, Sisingamangaraja XII juga beberapa kali menunjukkan kesaktiannya, yaitu :

  1. Sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII melalui Tangga Batu ingin minum, namun mata air ataupun bendar tidak tampak sama sekali, sementara teriknya matahari tidak tertahan lagi. Di dekat kaki Dolok Tolong, Sisingamangaraja mengambil tongkatnya dan dengan tongkatnya tersebut mata air dikorek dari tanah, sehingga rombongan dapat minum. Sampai saat ini, mata air tersebut masih digunakan sebagai air minum di kampung Pallanggean.
  2. Pada saat rombongan telah sampai di Tangga Batu dan akan merundingkan sesuatu dengan rakyat, terjadi kekurangan bahan pangan. Daging yang akan dijadikan makanan rakyat yang berkumpul tidak ada. Sementara tempat pengembalaan ternak kerbau dan lembu jauh dari lokasi mereka saat ini. Tiba-tiba kerbau milik seorang bernama Pagonda Tampubolon dapat dipanggil datang ke kampung dan disembelih.
  3. Bila Sisingamangaraja XII melintasi suatu daerah, segala orang tahanan harus dibebaskan. Karena Sisingamangaraja XII pernah berujar kepada O.R. Humbil yang pernah menahan warga, “Bila saya datang (Raja SisingamangrajaXII), sepantasnya rakyatku harus dilepaskan”. Akan tetapi O.R. Humbil mengabaikannya, sehingga sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII hendak meninggalkan kampung tersebut, maka dengan sekonyong-konyongnya terjadilah angin topan yang sangat hebatnya dikampung itu dan disusul pula dengan ular-ular yang bermacam-macam datang mengerumuni kampung tersebut.

Selain memiliki kesaktian yang berhubungan dengan alam, Ia juga diyakini memiliki kesaktian kebal terhadap peluru. Walau pada akhirnya dia gugur karna sebuah tembakan yang mengenai kepalanya.

Peninggalan Dari Perjuangan Sisingamangaraja

Pasukan Belanda menemukan sebilah pedang yang diduga digunakan oleh Sisingamangaraja XII pada saat berperang, yaitu Piso Gaja Dompak. Saat ini, pedang tersebut telah menjadi koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen, Belanda.

Tag : #Sisingamangaraja XII    #pahlawan    #pahlawan nasional    #perlawanan terhadap belanda   

Baca Juga