Oleh Defri Ngo•Kamis, 29 Jan 2026, 10.12 WIB
Tampak depan Gereja Santo Ignatius Loyola yang oleh masyarakat setempat akrab disebut Gereja Tua Sikka. Dibangun sekitar tahun 1896 dan diresmikan pada 24 Desember 1899. (Foto: PARBOABOA/Defri Ngo).
Atap Gereja Tua Sikka menjulang di perkampungan, menjadi penanda di sinilah iman Katolik berakar, tumbuh, dan diwariskan lintas generasi. (Foto: PARBOABOA/Defri Ngo).
Desain arsitektur Gereja Tua Sikka yang memadukan gaya Renaisans dan Barok Eropa dengan budaya lokal Flores. Bangunan ini didominasi material kayu jati yang didatangkan dari hutan-hutan di Pulau Jawa dan diangkut dengan kapal besar menuju Maumere. Meski didominasi kayu, Gereja ini tetap kokoh, bahkan selamat dari terjangan tsunami Maumere pada 1992 (Foto: PARBOABOA/Defri Ngo).
Dinding Gereja dihiasi wenda, motif khas tenun ikat Sikka. Sudah ada sejak misa Natal pertama 1899. Tiga puluh enam jendela kayu terpasang tanpa kaca; 48 jendela kecil di bagian atas berkaca kuning kusam (Foto: PARBOABOA/Defri Ngo).
Sebuah kapela di sisi kiri Gereja Tua Sikka tempat penyimpanan patung salib Yesus peninggalan Raja Sikka Don Alexius Ximenes da Silva. Salib dipercaya dibawa dari Portugis sekitar tahun 1600. (Foto: PARBOABOA/defri Ngo).
Gua Maria yang terletak di sisi kiri Kapela Senhor. Masyarakat percaya sosok Maria tidak saja menjadi Ibu Yesus, tetapi perantara setiap doa mereka (Foto: PARBOABOA/Defri Ngo).